Semuamilik Allah dan hanya kepadaNya kita akan kembali," ujarnya. Sebagai orang tua, Presiden turut merasakan betapa beratnya perasaan dan beban yang dipikul Ridwan Kamil dan istrinya, Atalia Praratya dalam menghadapi kejadian yang menimpa putra sulungnya tersebut. Baca Juga: Ridwan Kamil: Wahai Sungai Aare, Bahagiakan Dia dalam Keindahanmu
Semuahamba Allah SWT yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya, seperti yang sudah dijelaskan pada Ayat Allah yang berbunyi : Artinya : "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati". Ayat diatas seringkali dijadikan sebagai ayat pengingat, ayat penasehat bagi setiap orang. Bahwa kita semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
Janganlupakan kami karena kalian semualah yang kami miliki sekarang. Sumbangan kalian sama sekali tidak sampai kepada kami, dan ketika Israel membuka perbatasan, sumbangan itu hanya untuk beberapa gelintir saja. Teruslah beramal karena Allah dan berdoa bahwa kemenangan akan segera datang, insyaAllah. Ummu Taqi.
Ibnu`Atho'. Sudahlah, kembalikan semua kepada Allah SWT. Jangan membiasakan diri mengaku sebagai pemilik semua hal. Jangan merasa apa yang ada pada kita adalah milik kita. Semua itu milik Allah. Semua alam semesta dan semua yang selain-Nya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya. Termasuk kita dan kehidupan kita.
Karenaitu adalah suatu bentuk kepasrahan pada Allah, ketidakberdayaan kita melawan kehendak dan takdir Allahm Semuanya adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya semua akan kembali. Kita tidak dapat mengira, memprediksi apalagi meramalkan kematian, bencana, kesusahan atau musibah yang bisa saja menimpa.
a5BPjQo. Sahijab – Innalillahi wa inna ilahi raji’un artinya semua milik Allah dan semuanya akan kembali pada Allat SWT. Sebagaimana orang yang telah meninggal, dia adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah SWT. Selain itu, kalimat tersebut juga dapat diucapkan ketika diri sendiri atau seseorang terkena musibah. Tapi masih banyak orang yang masih bingung dan bahkan tidak mengetahui cara penulisannya yang benar. Selain itu, pengucapan kalimat tersebut juga tertuang dalam Al Quran berikut ini."Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan Innalillahi wa inna ilahi raji’un sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah SWT" QS. Al-Baqarah 156. Lalu, Innalillahi wa inna ilahi raji’un artinya? Makna Innalillahi wa inna ilahi raji’un Arti sesungguhnya dari kalimat Innalillahi wa inna ilahi raji’un adalah “Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan sesungguhnya kita semua akan kembali kepadaNya”. Dari kalimat ini mengandung sebuah pengakuan bahwa manusia itu tidak memiliki apa-apa. Karena apa yang dimiliki oleh manusia hanyalah titipan, dan suatu ketika akan diambil oleh pemiliknya, Allah SWT. Dikenal sebagai bacaan Istirja atau Tarji Berita Terkait Ustaz Adi Hidayat Ungkap 1 Kalimat Dahsyat Agar Doa Terkabul Keutamaan Membayar Zakat Fitrah Menurut Alquran dan Hadis Kapan Terjadinya Malam Lailatul Qadar? Begini Pendapat Ahli Hadis Macam-macam Sabar dalam Islam yang Wajib Diketahui Agar Kuat Hati dan Iman
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ البقرة ١٥٦ alladhīnaٱلَّذِينَorang-orang yangaṣābathumأَصَٰبَتْهُمmenimpa merekamuṣībatunمُّصِيبَةٌmusibahqālūقَالُوٓا۟mereka mengucapkaninnāإِنَّاsesungguhnya kamilillahiلِلَّهِmilik Allahwa-innāوَإِنَّآdan sesungguhnya kamirājiʿūnaرَٰجِعُونَmereka kembaliAl-Ladhīna 'Idhā 'Aşābat/hum Muşībatun Qālū 'Innā Lillāhi Wa 'Innā 'Ilayhi Rāji`ūna. al-Baq̈arah 2156Artinyayaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. QS. [2] Al-Baqarah 1561 Tafsir Ringkas KemenagKehidupan manusia memang penuh cobaan. Dan Kami pasti akan menguji kamu untuk mengetahui kualitas keimanan seseorang dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Bersabarlah dalam menghadapi semua itu. Dan sampaikanlah kabar gembira, wahai Nabi Muhammad, kepada orang-orang yang sabar dan tangguh dalam menghadapi cobaan hidup, yakni orang-orang yang apabila ditimpa musibah, apa pun bentuknya, besar maupun kecil, mereka berkata, Inna lilla hi wa inna ilaihi ra ji'un sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Mereka berkata demikian untuk menunjukkan kepasrahan total kepada Allah, bahwa apa saja yang ada di dunia ini adalah milik Allah; pun menunjukkan keimanan mereka akan adanya hari akhir. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk sehingga mengetahui Tafsir Lengkap Kemenag3 Tafsir Ibnu Katsir4 Tafsir Al-Jalalain5 Tafsir Quraish Shihab Al-Misbahالقرآن الكريم - البقرة2 156Al-Baqarah 2156 Alif Lam Mim
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ Arab-Latin Allażīna iżā aṣābat-hum muṣībah, qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ụnArtinya yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Al-Baqarah 155 ✵ Al-Baqarah 157 »Mau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarangTafsir Menarik Mengenai Surat Al-Baqarah Ayat 156 Paragraf di atas merupakan Surat Al-Baqarah Ayat 156 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada aneka ragam tafsir menarik dari ayat ini. Didapatkan aneka ragam penjelasan dari berbagai mufassirin berkaitan makna surat Al-Baqarah ayat 156, di antaranya seperti di bawah ini📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi ArabiaDan diantara karakter sifat orang-orang yang sabar itu bahwa mereka sesungguhnya ketika ditimpa sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka mengatakan “Sesungguhnya kami adalah hamba sahaya milik Allah, di bawah pengaturan perintah dan kendali Nya, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya kepada kami dan Sesungguhnya kami akan kembali kepada Nya melalui kematian,kemudian kebangkitan untuk menghadapi perhitungan amal dan pembalasannya.📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid Imam Masjidil Haram156. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa salah satu musibah dari musibah-musibah tersebut mereka berkata dengan nada rida dan pasrah, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah yang dapat memperlakukan kami menurut kehendak-Nya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepadanya kelak pada hari kiamat. Dia lah yang telah menciptakan kami dan menganugerahkan beragam nikmat kepada kami. Dia lah tempat kami kembali dan ujung dari urusan kami.”📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam MadinahAllah menjelaskan bahwasannya mereka tertimpa musibah bersabar dan berusaha serta mengatakan segala milik Allah dan segala akan kembali dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah156. مُّصِيبَةٌ musibah Yakni segala musibah yang menyebabkan kesedihan pada hati seseorang meskipun kecil. إِنَّا لِلَّـهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رٰجِعُونَ kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali Kalimat ini sebagai tempat pertolongan bagi orang-orang yang terkena musibah dan perlindungan bagi orang-orang yang mendapat cobaan karena didalamnya terkumpul makna pengakuan penghambaan kepada Allah dan pengakuan kepada hari kebangkitan dan dunia bukanlah akhir dari segalanya.📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia155-156 1 . Ridho atas takdir-taqdir yang tidak disenangi adalah hal yang sangat dianjurkan, dan sabar atasnya adalah kewajiban, Hasan al-Bashri mengatakan "keridhoan itu mulia, tetapi kesabaran adalah sandaran yang lebih utama bagi seorang mukmin". 2 . Tatkala kamu menjadikan al-Qur'an sebagai tafsir segala kejadian yang menghadapimu dalam kehidupan ini; akan nampak dihadapanmu bahwasanya musibah-musibah itu berganti sejak kejadiannya menjadi kebaikan yang senantiasa menjadi penuntunmu dalam kebaikan dan sabar yang indah. Tadabburilah ayat ini dan ayat setelahnya, agar kamu mengetahui manhaj yang tiada tandingnya yang Allah anugerahkan secara khusus kepada orang-orang beriman { الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } "yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun".📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah156. Orang-orang yang bersabar adalah orang-orang ketika dihadapkan kepada musibah bisa membuat menderita, mereka akan berkata “Sesungguhnya Kami milik Allah, dan hanya kepadaNyalah Kami akan kembali, atau Sesungguhnya Kami adalah hamba-hamba Allah dan akan kembali kepadaNya setelah mati”Mau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinahyaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Sesungguhnya kami adalah milik Allah} sesungguhnya kami adalah hamba dan milik Allah. Dia melakukan segala sesuatu kepada kami sesuai kehendakNya {dan sesungguhnya hanya kepadaNyalah kami kembali📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H156. “Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah,” yaitu segala hal yang menyakitkan hati atau tubuh atau keduanya dari segala hal yang telah disebutkan sebelumnya “mereka mengucapkan innalillah,” maksudnya, kami adalah milik Allah yang diatur di bawah perintah dan kekuasaannya. Kami tak punya hak sedikitpun terhadap harta maupun diri kami sendiri, bila Dia menguji kami dengan mengambil atau memusnahkan sesuatu darinya, maka pada hakikatnya Dia yang maha pengasih telah melakukan tindakan terhadap hamba-hamba miliknya dan harta-harta mereka. Oleh karena itu tidak perlu ada gugatan sama sekali terhadap semua itu bahkan termasuk kesempurnaan penghambaan seorang hamba adalah pengetahuannya bahwa terjadi suatu cobaan itu adalah dari yang memiliki lagi maha bijaksana, yang mana dia adalah dzat yang paling pengasih terhadap hamba-Nya daripada diri hamba itu sendiri. Dengan demikian, hamba itu haruslah Ridho terhadap Allah dan bersyukur kepadaNya atas pengaturannya kepada sesuatu yang lebih baik bagi hamba-Nya walaupun hamba itu sendiri tidak sadar akan hal tersebut. Dan keadaan bahwa kami ini milik Allah, bersama itu kami juga akan kembali kepadaNya pada hari kebangkitan nanti. Lalu Dia akan membalas setiap perbuatan dari pelakunya, bila kami bersabar dan hanya mengharap pahala di sisi-Nya kami akan memperoleh ganjaran secara sempurna disisi-Nya, namun bila kami tidak bersabar dan mencaci-maki niscaya kami tidak memiliki apa-apa kecuali hanya murka dan lenyapnya pahala. Keberadaan seorang hamba bahwa dia milik Allah dan akan kembali kepadaNya adalah faktor terbesar yang menyebabkan tumbuhnya kesabaran.📚 Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid NabawiMakna kata { المصيبة } al-Mushiibah Bahaya yang menimpa hamba baik menimpa dirinya, keluarganya, atau hartanya. Makna ayat Ayat 156 menjelaskan keadaan orang-orang yang bersabar yaitu ketika mereka tertimpa musibah mereka mengatakan “Sesungguhnya kami milik Allah”, maka dengan kehendakNya Dia menimpakan ujian karena kami adalah hamba dan milikNya. “Dan hanya kepadaNya lah kami kembali” dengan kematian, maka tidak ada rasa gundah gulana, yang ada hanya menerima hukumNya dan ridha dengan takdirNya. Pelajaran dari ayat • Keutamaan mengucap kalimat istirja’ “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’uun”. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda “Ketika seorang hamba tertimpa musibah, kemudian dia mengucapkan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’uun, Allahumma’ jurniiy fii mushiibatiy wakhlif liy khairan minhaa” kecuali Allah akan memberikan pahala atas musibahnya dan mengganti untuknya yang lebih baik.” HR MuslimMau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, Al-Baqarah ayat 156 Musibah adalah semua yang membuat hati, badan atau kedua-duanya terasa sakit atau pedih. Maksudnya kita milik Allah, di bawah pengaturan dan tindakan-Nya, Dia berbuat kepada milik-Nya apa yang Dia kehendaki, kita tidak memiliki apa-apa terhadap jiwa dan harta sedikit pun. Oleh karena itu, jika Dia menimpakan ujian kepada kita, maka sesungguhnya itu merupakan tindakan dari Yang Maha Penyayang kepada milik-Nya, maka tidak boleh diprotes. Bahkan termasuk sempurnanya pengabdian seorang hamba adalah dia merasakan bahwa musibah yang menimpanya berasal dari Pemilik dirinya, Tuhan yang Maha Bijaksana yang lebih sayang kepada dirinya daripada sayangnya seorang hamba kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu, sikap yang harus dilakukan adalah ridha, bersyukur karena diatur oleh-Nya kepada hal yang lebih baik bagi dirinya meskipun ia tidak menyadari. Di samping kita sebagai milik-Nya, kita juga akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat, lalu masing-masing akan diberi balasan sesuai amalnya. Jika kita bersabar dan mengharap pahala dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala, maka kita akan mendapatkan pahala secara penuh di sisi-Nya, sedangkan jika kita berkeluh kesah, maka tidak ada yang kita peroleh selain keluh kesah, musibah dan hilangnya pahala. Memahaminya seorang hamba bahwa dirinya adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya merupakan sebab terkuat untuk memperoleh kesabaran.📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Baqarah Ayat 156Kehidupan manusia memang penuh cobaan. Dan kami pasti akan menguji kamu untuk mengetahui kualitas keimanan seseorang dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buahbuahan. Bersabarlah dalam menghadapi semua itu. Dan sampaikanlah kabar gembira, wahai nabi Muhammad, kepada orang-orang yang sabar dan tangguh dalam menghadapi cobaan hidup, yakni orang-orang yang apabila ditimpa musibah, apa pun bentuknya, besar maupun kecil, mereka berkata, inna' lilla'hi wa inna' ilaihi ra'ji'un sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Mereka berkata demikian untuk menunjukkan kepasrahan total kepada Allah, bahwa apa saja yang ada di dunia ini adalah milik Allah; pun menunjukkan keimanan mereka akan adanya hari akhir. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk sehingga mengetahui kebenaranMau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang Demikian beraneka penjelasan dari kalangan pakar tafsir terhadap makna dan arti surat Al-Baqarah ayat 156 arab-latin dan artinya, moga-moga bermanfaat bagi kita semua. Dukung usaha kami dengan mencantumkan link menuju halaman ini atau menuju halaman depan Konten Tersering Dikaji Ada ratusan topik yang tersering dikaji, seperti surat/ayat Do’a Sholat Dhuha, Al-Kautsar, Asmaul Husna, Al-Ikhlas, Yasin, Al-Kahfi. Juga Al-Waqi’ah, Al-Baqarah, Al-Mulk, Ar-Rahman, Ayat Kursi, Shad 54. Do’a Sholat DhuhaAl-KautsarAsmaul HusnaAl-IkhlasYasinAl-KahfiAl-Waqi’ahAl-BaqarahAl-MulkAr-RahmanAyat KursiShad 54 Pencarian al baqarah latin, surat al-mulk, al mujadalah ayat 11, yunus ayat 40-41, al anbiya ayat 30 Dapatkan amal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat. Plus dapatkan bonus buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" secara 100% free, 100% gratis Caranya, salin text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga 3 group WhatsApp yang Anda ikuti Silahkan nikmati kemudahan dari Allah Ta’ala untuk membaca al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik surat yang mau dibaca, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar tafsir lengkap untuk ayat tersebut 🔗 *Mari beramal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat ini* Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol "Dapatkan Bonus" di bawah
Bismillahirrahmanirrahim, para pemirsa Mutiara Hati, Prof. Quraish Shihab akan membahas tentang kandungan makna Innalillahiwainnailaihirojiun. Ada sementara orang menduga bahwa kalimat ini diucapkan hanya ketika ada yang wafat, sebenarnya tidaklah demikian. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu ketika di rumah Rasulullah SAW, yang berdampingan dengan masjid atau di dalam masjid sekarang. Lampu padam, nabi berucap Innalillahiwainnailaihirojiun. Tidak ada yang mati, tidak ada yang wafat dan hanya lampu yang padam. Oleh karena itu, para ulama menegaskan bahwa Innalillahiwainnailaihirojiun itu diucapkan pada saat terasa ada musibah yang terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Mari kita lihat, Innalillahiwainnailaihi, ini mengingatkan kita bahwa musibah yang terjadi pada seseorang. Pada hakikatnya musibah serupa atau selain itu dapat juga terjadi pada orang lain. Karena itu, ucapan yang diajarkan ini bukan inni akantetapi inna yang berarti kita. Hal ini bisa memberikan dampak yang positif di hati Anda, jika Anda mengingat bahwa semakin banyak yang ditimpa musibah, semakin ringan musibah itu dirasakan. Berbeda dengan kegembiraan, semakin banyak yang bergembira, maka semakin besar kegembiraan itu terasa. Maka Allah swt mengajarkan Innalillahi. Kami milik Allah swt. Jangan pernah merasa bahwa apa yang ada di tangan Anda, jangan pernah merasa yang terkecil sekalipun itu adalah milik Anda, bahwa semua itu milik Allah swt. Maka kapan saja Dia hendak mengambilnya, wajar karena memang milik-Nya. Innalillahi wa inna ilaihirojiun, akantetapi di sini ditambahkan, dan kita akan kembali kepada-Nya. Jika kita terjemahkan lebih tepat, dan kita hanya kepada-Nya akan kembali. Apa makna ini ? Yakinlah bahwa Allah swt itu baik. Ada seseorang yang ditanya, apakah kamu takut mati ? Dan dia balik bertanya, kemana saya kalau mati ? kepada Allah swt, dijawab, saya tidak khawatir, karena saya yakin Allah swt itu baik. Jika demikian, apabila ada musibah tidak usah terlalu bersedih, jangan bersedih, wajar sedih. Jangan terlalu bersedih, namun tanamkan di dalam hati Anda, bahwa musibah bisa terjadi kapan dan dimana saja dan terhadap siapa saja. Tetapi itu wajar, karena memang Allah swt pemiliknya. Dan yang bersangkutan akan kembali kepada-Nya dan karena Allah swt itu baik, maka pasti yang akan ditemukan pada-Nya, selama Anda bersangka baik kepada Allah swt. Ringkasan
Dalam islam telah diajarkan bahwa kita sebagai umatnya pasti akan mengalami kematian. Allah SWT telah berfirman dalam ayat berikut ini. Artinya “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati., dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu…..” Ali Imran/3 185 Jika ada salah satu kerabat kita yang meninggal maka keluarga yang ditinggalkannya hendaknya menerima atau ikhlas dan rela melepas kepergian orang yang di dunia ini adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepadaNya. Hal ini tertuang sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut Artinya “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali” Al-Baqarah/2 156. Baca juga Hukum Berwudhu Sebelum Akad NikahHal tersebut juga tertuang pada sabd oleh Nabi Muhammad saw, dalam hadits berikut ini yaituArtinya Dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda, “Banyak-banyaklah kamu mengingat hal yang memutuskan kesenangan, yaitu kematian.” at-Tirmizi 22291. Kewajiban Mengurus JenazahPada dasarnya setiap muslim memiliki kewajiban terhadap saudara sesame muslim yang meninggal yang harus segera dilaksanakan adalah mengurus jenazahnya dan juga mengurus harta peninggalan orang ini bersifat kolektif karena itu dimasukkan sebagai suatu jenis ibadah yang dimana Hukum Mengurus Jenazah Dalam Islam hukumnya fardu kifayah, artinya kewajiban bagi seluruh umat muslim. Baca juga Hukum Kerja Sebagai Kolektor Dalam IslamTetapi apabila sudah dilaksanakan oleh beberapa orang yang melaksanakannya, maka kewajiban itu gugur bagi seluruh umat muslim. Kewajiban-kewajiban terhadap orang yang meninggal adalah diantaranya memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan Memandikan mayitMemandikan mayit juga hukumnya fardhu kifayah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, beliau berkata sebagai berikutبينَا رجلٌ واقفٌ مع النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بعَرَفَةَ ، إذْ وَقَعَ عن راحلتِهِ فَوَقَصَتْهُ ، أو قال فأَقْعَصَتْهُ ، فقالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ اغْسِلوهُ بماءٍ وسِدْرٍ ، وكَفِّنُوهُ في ثَوْبَيْنِ ، أو قالَ ثَوْبَيْهِ ، ولا تُحَنِّطُوهُ ، ولا تُخَمِّروا رأسَهُ ، فإنَّ اللهَ يبْعَثُهُ يومَ القيامةِ يُلَبِّي“Ada seorang lelaki yang sedang wukuf di Arafah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba ia terjatuh dari hewan tunggangannya lalu meninggal. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda mandikanlah ia dengan air dan daun bidara. Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain, jangan beri minyak wangi dan jangan tutup kepalanya. Karena Allah akan membangkitkannya di hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah” HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206. Juga hadits dari Ummu Athiyyah radhialahu’anha, ia berkata تُوفيتْ إحدى بناتِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، فخرج فقال اغْسِلْنَها ثلاثًا ، أو خمسًا ، أو أكثرَ من ذلك إن رأيتُنَّ ذلك ، بماءٍ وسدرٍ ، واجعلنَ في الآخرةِ كافورًا ، أو شيئًا من كافورٍ، فإذا فرغتُنَّ فآذِنَّنِي فلما فرغنا آذناه فألقى إلينا حقوه فضفرنا شعرها ثلاثة قرون وألقيناها خلفها“Salah seorang putri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam meninggal yaitu Zainab. Maka beliau keluar dan bersabda“Mandikanlah ia tiga kali, atau lima kali atau lebih dari itu jika kalian menganggap itu perlu. Dengan air dan daun bidara. Dan jadikanlah siraman akhirnya adalah air yang dicampur kapur barus, atau sedikit kapur barus. Jika kalian sudah selesai, maka biarkanlah aku masuk”. Ketika kami telah menyelesaikannya, maka kami beritahukan kepada beliau. Kemudian diberikan kepada kami kain penutup badannya, dan kami menguncir rambutnya menjadi tiga kunciran, lalu kami arahkan ke belakangnya” HR. Bukhari no. 1258, Muslim no. 939. Baca juga Hukum Memainkan Pernikahan dalam Islam3. Shalat JenazahMelaksanakan shalat jenazah ialah shalat yang dikerjakan sebanyak empat kali takbir dalam rangka mendoakan orang sesame muslim yang sudah jenazah sudah selesai dimandikan dan dikafani. Hendaknya segera dishalati sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut Artinya “Rasulullah SAW, bersabda shalatkanlah orang orang yang telah meninggal dunia diantara kalian semua.” Ibnu Majjah 1511Semua di dunia ini adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepadaNya. Hal ini tertuang sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikutArtinya “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali” Al-Baqarah/2 156Hal tersebut juga tertuang pada sabd oleh Nabi Muhammad saw, dalam hadits berikut ini yaituArtinya Dari Abu Hurairah, Nabi SAW. bersabda,“Banyak-banyaklah kamu mengingat hal yang memutuskan kesenangan, yaitu kematian.” at-Tirmizi 2229 4. Kewajiban Mengurus JenazahPada dasarnya setiap muslim memiliki kewajiban terhadap saudara sesame muslim yang meninggal dunia. Kewajiban yang harus segera dilaksanakan adalah mengurus jenazahnya dan juga mengurus harta peninggalan orang tersebut. Baca juga Kedudukan Mahar dalam Hukum IslamKewajiban ini bersifat kolektif karena itu dimasukkan sebagai suatu jenis ibadah yang dimana Hukum Mengurus Jenazah Dalam Islam hukumnya fardu kifayah, artinya kewajiban bagi seluruh umat muslim, tetapi apabila sudah dilaksanakan oleh beberapa orang yang melaksanakannya, maka kewajiban itu gugur bagi seluruh umat terhadap orang yang meninggal adalah diantaranya memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan Memandikan mayitMemandikan mayit juga hukumnya fardhu kifayah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, beliau berkata sebagai berikutبينَا رجلٌ واقفٌ مع النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بعَرَفَةَ ، إذْ وَقَعَ عن راحلتِهِ فَوَقَصَتْهُ ، أو قال فأَقْعَصَتْهُ ، فقالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ اغْسِلوهُ بماءٍ وسِدْرٍ ، وكَفِّنُوهُ في ثَوْبَيْنِ ، أو قالَ ثَوْبَيْهِ ، ولا تُحَنِّطُوهُ ، ولا تُخَمِّروا رأسَهُ ، فإنَّ اللهَ يبْعَثُهُ يومَ القيامةِ يُلَبِّي“Ada seorang lelaki yang sedang wukuf di Arafah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba ia terjatuh dari hewan tunggangannya lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaMandikanlah ia dengan air dan daun bidara. Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain, jangan beri minyak wangi dan jangan tutup kepalanya. Karena Allah akan membangkitkannya di hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah” HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206. Juga hadits dari Ummu Athiyyah radhialahu’anha, ia berkataتُوفيتْ إحدى بناتِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، فخرج فقال اغْسِلْنَها ثلاثًا ، أو خمسًا ، أو أكثرَ من ذلك إن رأيتُنَّ ذلك ، بماءٍ وسدرٍ ، واجعلنَ في الآخرةِ كافورًا ، أو شيئًا من كافورٍ، فإذا فرغتُنَّ فآذِنَّنِي فلما فرغنا آذناه فألقى إلينا حقوه فضفرنا شعرها ثلاثة قرون وألقيناها خلفها “Salah seorang putri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam meninggal yaitu Zainab. Maka beliau keluar dan bersabda“Mandikanlah ia tiga kali, atau lima kali atau lebih dari itu jika kalian menganggap itu perlu. Dengan air dan daun bidara. Dan jadikanlah siraman akhirnya adalah air yang dicampur kapur barus, atau sedikit kapur barus. Jika kalian sudah selesai, maka biarkanlah aku masuk”. Ketika kami telah menyelesaikannya, maka kami beritahukan kepada beliau. Kemudian diberikan kepada kami kain penutup badannya, dan kami menguncir rambutnya menjadi tiga kunciran, lalu kami arahkan ke belakangnya” HR. Bukhari no. 1258, Muslim no. 939. 6. Shalat JenazahMelaksanakan shalat jenazah ialah shalat yang dikerjakan sebanyak empat kali takbir dalam rangka mendoakan orang sesame muslim yang sudah meninggal. Baca juga Larangan Diskriminasi dalam IslamApabila jenazah sudah selesai dimandikan dan dikafani. Hendaknya segera dishalati sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut Artinya “Rasulullah saw, bersabda “Shalatkanlah orang orang yang telah meninggal dunia diantara kalian semua.” Ibnu Majjah 1511
semua milik allah dan akan kembali kepadanya